Powered by Blogger.

Monday, April 15, 2013

Laporan Biologi "Respirasi"


LAPORAN BIOLOGI
ACARA 4
SISTEM RESPIRASI











NAMA       : ALFIAH ISLAMIAH
NIM            : 120210101019
KELAS       : BIOLOGI DASAR B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN AJARAN 2012/2013
       I.            JUDUL : Sistem Respirasi

    II.            TUJUAN :
Adapun tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kapasitas vital paru-paru pada manusia.

 III.            DASAR TEORI:
A.    Pengertian respirasi
Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran karbondioksida serta penggunaan energi di dalam tubuh manusia. Oksidasi yang berlangsung di dalam tubuh manusia lazimnya disebut oksidasi biologis.(Hadisumarto et al. 1986: 30)
Proses oksidasi biologi ini untuk menghasilkan energi berupa ATP (adenosin tri phosphat). Reaksi tersebut menghasilkan zat sisa berupa karbondioksida dan uap air yang kemudian dihembuskan keluar. Jadi tujuan respirasi sebenarnya adalah untuk membentuk ATP yang diperlukan untuk seluruh aktivitas kehidupan. (Anonim. 2010)
Sistem respirasi terdiri atas organ-organ yang berfungsi dalam aktivitas metabolisme khususnya produksi atau perubahan dari energi kimia yang terikat dalam matewri organik menjadi energi siap pakai (ATP) dalam sel. (Waluyo et al. 2010: 13)
Berdasarkan tempat terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2, Respirasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
·         Respirasi external
Respirasi external mengacu pada semua proses yang terlibat pada pertukaran O2 dan CO2 antara sel-sel tubuh dengan lingkungan luar. Pernafasan external meliputi:
1.      Tahap vertilisasi yaitu pertukaran antara medium (lingkungan)eksternal dengan organ-organ pernafasan.
2.      Tahap pertukaran yaitu pertukaran O2 dan CO2 antara organ-udara pernafasan dengan darah dalam kapiler organ pernafasan.
3.      Tahap pengangkutan O2 dari kapiler organ pernafasan ke sel-sel tubuh dan pengangkutan CO2 dari sel-sel tubuh ke organ pernafasan.
4.      Tahap pertukaran O2 dan CO2 antara darah dalam kapiler sistematik dengan sel-sel tubuh.
·         Respirasi internal
Respirasi internal disebut juga sebagai respirasi seluler, mengacu pada proses metabolism intraseluler yang terjadi dalam sitoplasma dan mitokondria dengan melibatkan penggunaan O2 untuk menghasilkan energy dari molekul-molekul zat makanan dengan hasil samping CO2. Secara keseluruhan reaksi respirasi internal sebagai berikut:
C6H12O6 + 6CO2                   6CO2 + 6H2O + 38 ATP
Pernafasan internal dibagi menjadi 4 tahap yaitu:
1.      Glikolisis
2.      Oksidasi asam piruvat
3.      Daur asam sitrat
4.      System transfer electron
(Soewolo. 2000: 202)

B.     Alat-alat respirasi pada manusia
1.      Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan udara yang masuk.Di sebelah belakang rongga hidung terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choanae.
2.      Faring (Tenggorokan)
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan (orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara.
Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk dan juga sebagi jalan makanan dan minuman yang ditelan, faring juga menyediakan ruang dengung(resonansi) untuk suara percakapan.
3.      Batang Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada (torak). Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.
4.      Pangkal Tenggorokan (laring)
Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan. Laring berada diantara orofaring dan trakea, didepan lariofaring. Salah satu tulang rawan pada laring disebut epiglotis. Epiglotis terletak di ujung bagian pangkal laring. Laring diselaputi oleh membrane mukosa yang terdiri dari epitel berlapis pipih yang cukup tebal sehingga kuat untuk menahan getaran-getaran suara pada laring. Fungsi utama laring adalah menghasilkan suara dan juga sebagai tempat keluar masuknya udara.
5.      Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus)
Batang tenggorokan bercabang menjadi dua bronkus, yaitu bronkus sebelah kiri dan sebelah kanan. Kedua bronkus menuju paru-paru, bronkus bercabang lagi menjadi bronkiolus. Bronkus sebelah kanan(bronkus primer) bercabang menjadi tiga bronkus lobaris (bronkus sekunder), sedangkan bronkus sebelah kiri bercabang menjadi dua bronkiolus. Cabang-cabang yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru atau alveolus. Dinding alveolus mengandung kapiler darah, melalui kapiler-kapiler darah dalam alveolus inilah oksigen dan udara berdifusi ke dalam darah. Fungsi utama bronkus adalah menyediakan jalan bagi udara yang masuk dan keluar paru-paru.
6.      Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis, disebut pleura. Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura dalam (pleura visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis). Paru-paru tersusun oleh bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh darah. Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan,tetapi ronga bronkus masih bersilia dan dibagian ujungnya mempunyai epitelium berbentuk kubus bersilia. Setiap bronkiolus terminalis bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus respirasi, kemudian menjadi duktus alveolaris.Pada dinding duktus alveolaris mangandung gelembung-gelembung yang disebut alveolus. (Muchtaromah. 2010)

C.     Mekanisme pernafasan
Pada saat bernafas terjadi kegiatan inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pemasukan gas O2 dan udara atmosfer ke dalam paru-paru, sedangkan ekspirasi adalah peneluaran gas CO2 dan uap air dari paru-paru ke luar tubuh. (Waluyo. 2010: 239)
Pernafasan manusia dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:

1. Pernapasan dada

·         Inspirasi : Bila otot antar tulang rusuk berkontraksi, maka tulang rusuk terangkat, volume rongga dada akan membesar sehingga tekanan udara di dalamnya menjadi lebih kecil daripada tekanan udara luar, sehingga udara masuk ke paru-paru.
·         Ekspirasi : Bila otot antar tulang rusuk relaksasi, maka posisi tulang rusuk akan menurun, akibatnya volume rongga dada akan mengecil sehingga tekanan udara membesar, akibatnya udara terdorong ke luar dari paru-paru.

2. Pernapasan perut

·         Inspirasi : Bila otot diafragma berkontraksi, maka posisi diafragma akan mendatar, akibatnya volume rongga dada bertambah besar, tekanan mengecil, sehingga udara masuk ke paru-paru
·         Ekspirasi : Bila otot diafragma relaksasi, maka posisi diafragma naik/melengkung, sehingga rongga dada mengecil, tekanan membesar, akibatnya udara terdorong keluar.
Ekspirasi bukan saja akibat otot-otot antar tulang rusuk dan diafragma yang berelaksasi, tetapi juga karena kontraksi otot dinding perut.
Mekanisme Pertukaran O2 dan CO2
Saat kita menghirup udara, O2 akan bergerak menembus alveolus paru-paru, lalu diikat dan diangkut oleh darah menuju ke seluruh jaringan tubuh. Sekitar 97% oksigen yang masuk ke dalam darah akan diangkut oleh hemoglobin/eritrosit, sedangkan yang 2-3 % lagi akan larut dan diangkut oleh plasma darah. Oksigen yang terikat dalam Hb dikenal dengan oksihemoglobin (HbO2). Persamaan reaksi oksigen dengan hemoglobin adalah sebagai berikut:
Hb + O2                HbO2
(pengikatan oksigen oleh darah di alveolus paru-paru)
HbO2                    Hb + O2
(pelepasan oksigen oleh darah, selanjutnya oksigen diambil oleh sel-sel tubuh)
Perpindahan oksigen dari atmosfer ke alveolus paru-paru, lalu ke darah, dan selanjutnya ke dalam jaringan tubuh dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen. Tekanan udara adalah satu atmosfer atau 760 mmHg, sedangkan tekanan parsial oksigennya adalah 150 mmHg. Tekanan parsial oksigen pada kapiler darah adalah 100 mmHg, sedangkan tekanan parsial oksigen dalam jaringan tubuh antara 0 sampai 40 mmHg. Keadaan inilah yang memungkinkan oksigen berdifusi dari luar ke darah lalu ke jaringan.
Hal yang berkebalikan terjadi pada perpindahan CO2. Tekanan parsial CO2 yang tertinggi adalah jaringan tubuh. Berturut-turut semakin rendah pada  darah dan di luar tubuh. Dengan cara yang sama CO2 dapat berpindah secara difusi dari jaringan hingga keluar tubuh.

Proses pengangkutan CO2

Proses oksidasi biologi di dalam sel dan jaringan akan menghasilkan zat-zat sisa seperti CO2 dan H2O. Zat-zat ini harus segera dikeluarkan dari dalam tubuh. CO2 yang dihasilkan oleh jaringan akan keluar dari sel dan masuk ke dalam darah untuk beredar bersama darah. Di dalam darah CO2 akan diangkut ke paru-paru dalam tiga bentuk, yaitu:
a. Diangkut dalam bentuk HCO-3 (bikarbonat) oleh plasma darah
(60%-70%)
CO2 bereaksi dengan H2O plasma (cairan sel) dari eritrosit dengan bantuan enzim karbonat anhidrase menyebabkan terbentuknya asam karbonat (H2CO3).  H2CO3 lalu terurai menjadi ion H+ dan HCO-3 (bikarbonat). Karena ion H+ dapat menyebabkan perubahan pH (keasaman), oleh sebab itu segera diikat oleh Hb menjadi HHb (asam hemoglobin). Sedangkan ion HCO-3 akan segera meninggalkan eritrosit masuk ke plasma darah. Kedudukan ion HCO-3 di dalam eritrosit diganti oleh ion klor (Cl). Inilah yang disebut dengan pertukaran klorida.
Di dalam paru-paru reaksi yang berkebalikan terjadi. HCO-3 yang telarut dalam plasma darah akan bergabung kembali dengan H+ yang semula diikat Hb membentuk H2CO3 kembali, juga dengan bantuan karbonat anhidrase. H2CO3 lalu terurai kembali menjadi CO2 dan H2O, kemudian akan dikeluarkan dari dalam paru-paru. Sementara itu Hb yang telah melepaskan H+ akan mengikat kembali O2 di alveolus.
b. CO2 akan diikat oleh Hb membentuk karbominohemoglobin (25%)
CO2 + Hb —–> HbCO2
c. CO2 diangkut oleh plasma darah dalam bentuk senyawa asam karbonat H2CO3 (6% – 10%)
(Anonim. 2010)

D.    Volume udara pernafasan
1.    Volume Tidal (VT) : Volume udara yang keluar masuk paru-paru sebagai akibat aktivitas pernapasan biasa (500 cc).
2.    Volume Komplementer (VK) : Volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal ke dalam paru-paru setelah inspirasi biasa (1500 cc)
3.    Volume Suplementer (VS) : Volume udara yang masih dapat dihembuskan secara maksimal dari dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi biasa (1500 cc)
4.    Volume Residu (VR) : Volume udara yang selalu tersisa di dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya (1000 cc)
5.    Kapasitas Vital (KV) : Volume udara yang dapat dihembuskan sekuat-kuatnya setelah melakukan inspirasi sekuat-kuatnya (KV = VT + VK + VS). (Anonim. 2010)
E.     Frekuensi pernafasan
Gerakan pernafasan diatur oleh pusat pengendali di otak, sedangkan aktifitas saraf pernafasan diransang oleh stimulus dari karbondioksida (CO2). Pada umumnya manusia mampu bernafas 15-18 kali tiap menitnya. Cepat atau lambatnya bernafas dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
1.      Factor Umur
semakin bertambah umur seseorang,maka semakin rendah frekuensi pernapasannya.
2.      Jenis kelamin
Laki-laki umumnya bernafas lebih pelan daripada perempuan ini dikarenakan volume paru-paru laki-laki lebih besar daripada perempuan, itu karena pada umumnya laki-laki lebih banyak bergerak daripada perempuan.
3.      Suhu tubuh
Hal ini berhubungan dengan proses metabolism tubuh, semakin tinggi suhu tubuhnya  semakin tinggi pula frekuensi pernapasannya
4.      Posisi tubuh
Pada saat berdiri frekuensi pernafasan lebih besar, karena energy yang digunakan tubuh untuk menopang tubuh lebih banyak. Pada posisi duduk, frekuensi pernafasan lebih menurun, karena energy yang digunakan untuk menyangga tubuh merata oleh tubuh.
5.      Kegiatan tubuh
Orang yang banyak  melakukan kegiatan frekuensi pernafasannya  akan meningkat karena kan lebih banyak memerlukan energy dibandingkan dengan orang yang melekukan sedikit gerakan jelas frekuensi pernafasannya akan lebih rendah karena lebih sedikit memerlukan energy. (Waluyo. 2010: 242)

 IV.         

    V.            HASIL PENGAMATAN:
Kel.
P/L
Umur (tahun)
Tinggi (cm)
Berat (kg)
Lingkar dada (cm)
Kapasitas vital
Diam
Lari
1.
L
19
167
55
86
3500
3625
2.
P
18
157,5
45,5
79
2500
2750
3.
L
19
164
65
87
3500
3750
4.
L
19
167
55
86
3750
3875
5.
L
19
171
57
84
3750
4000
6.
L
19
157,5
40
75
3000
3250

 VI.            PEMBAHASAN :
Respirasi merupakan serangkaian langkah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran sisa berupa karbondioksida dan uap air. Oksigen diperlukan oleh seluruh sel-sel tubuh dalam reaksi biokimia (oksidasi biologi) untuk menghasilkan energi berupa ATP (adenosin tri phosphat). Reaksi tersebut menghasilkan zat sisa berupa karbondioksida dan uap air yang kemudian dihembuskan keluar. Jadi tujuan respirasi sebenarnya adalah untuk membentuk ATP yang diperlukan untuk seluruh aktivitas kehidupan. Dalam proses respirasi ini, ada bermacam-macam volume udara yang keluar masuk di dalam tubuh manusia diantaranya volume udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu melakukan pernapasan biasa disebut volume tidal. Volume udara tidal pada pernapasan biasa kira-kira 500 ml. Ketika menarik napas dalam-dalam maka volume udara yang dapat kita tarik mencapai 1500 ml. Volume udara ini dinamakan volume komplementer (volume cadangan inspirasi atau inspiratory reserve volume). Ketika kita menarik napas sekuat-kuatnya, volume udara yang dapat diembuskan juga sekitar 1500 ml. Volume udara ini dinamakan volume suplementer (volume cadangan ekspirasi atau ekspiratory reserve volume). Kombinasi dari Volume tidal, volume komplementer dan volume suplementer merupakan kapasitas vital paru-paru yang besar volumenya kira-kira 3500ml. Meskipun telah mengeluarkan napas sekuat-kuatnya, tetapi masih ada sisa udara dalam paru-paru yang volumenya kira-kira 1500 mL. Volume udara sisa ini dinamakan volume residu. Jadi, Kapasitas paru-paru total  = kapasitas vital + volume residu =4500 ml/wanita dan 5500 ml/pria.
Hasil percobaan probandus menunjukkan bahwa kapasitas vital setelah berlari-lari lebih besar dibandingkan dengan kapasitas vital sebelum berlari-lari. Hal itu dikarenakan setelah berlari nafas menjadi tidak teratur karena membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga udara oksigen yang dihirup akan semakin banyak. Begitu pula udara oksigen yang dihembuskan juga akan banyak sehingga kapasitas vital setelah berlari menjadi lebih besar.
Tinggi dan berat badan probandus juga menjadi faktor yang mempengaruhi besar kecilnya kapasitas vital paru-paru. Dari tinggi dan berat badan seseorang, dapat diketahui keidealan seseorang dengan menggunakan rumus Body Mass Index, yaitu:
Keterangan:
BB = berat badan
TB = tinggi badan
Apabila diperoleh:
18-24   = ideal
            <18      = kurus
            >25      = gemuk
   >28      = obesitas
>30      = overweight
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa probandus dari kelompok 1, 2, 4, dan 5 berada dalam rentang 18-24 sehingga dapat dikatakan memiliki tubuh yang ideal. Sedangkan untuk probandus dari kelompok 3 hampir melewati batas ideal yaitu nilai keidealannya sebesar 24,16. Untuk probandus kelompok terakhir ini yang masuk dalam kategori kurus.
                        Keidealan ini dapat mempengaruhi kapasitas vital seseorang. Seperti yang terjadi pada probandus kelompok terakhir, nilai kapasitas vitalnya terendah diantara probandus-probandus yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini terjadi karena semakin kecil keidealan seseorang maka proses metabolismenya lambat dan kebutuhan oksigennya juga semakin sedikit jadi kapasitas vitalnya juga sedikit. Sebaliknya jika semakin tinggi keidealan seseorang, proses metabolismenya berlangsung cepat sehingga membutuhkan oksigen dalam jumlah banyak maka jumlah kapasitas vitalnya juga semakin tinggi.
                        Faktor selanjutnya yaitu jenis kelamin. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kapasitas vital probandus yang berjenis kelamin perempuan lebih sedikit dibandingkan dengan probandus berjenis kelamin laki-laki. Laki-laki pada umumnya bernafas lebih pelan daripada perempuan karena volume paru-paru laki-laki lebih besar daripada volume paru-paru perempuan. Selain itu lebih banyak laki-laki yang melakukan aktivitas berat daripada perempuan sehingga kebutuhan energinyapun juga besar. Akibatnya kebutuhan akan oksigen juga akan banyak artinya jumlah kapasitas vitalnya juga akan tinggi.
                        Faktor umur juga mempengaruhi besarnya kapasitas vital probandus. Semakin bertambahnya umur seseorang maka frekuensi pernafasannya semakin lambat, sehingga kapasitas vitalnya dapat dikatakan lebih rendah jika dibandingkan dengan remaja. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya kebutuhan energi yang juga akan mengurangi kecepatan metabolisme tubuh sehingga oksigen yang dibutuhkan juga akan berkurang. Dalam praktikum ini, semua probandus merupakan golongan remaja sehingga kapasitas vitalnya tergolong tinggi. Kapasitas vital terendah dimiliki oleh probandus kelompok 2 yang berusia 18 tahun atau paling muda diantara probandus yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lain yaitu jenis kelamin. Probandus kelompok 2 ini merupakan satu-satunya probandus yang berjenis kelamin perempuan.                            Lingkar dada juga dapat mempengaruhi kapasitas udara yang masuk. Semakin besar lingkar dada otomatis rongga dada juga besar dan oksigen yang masuk semakin banyak. Sebaliknya, jika lingkar dada kecil maka oksigen yang dihirup akan semakin sedikit. Probandus yang memiliki lingkar dada paling kecil adalah probandus dari kelompok 6. Namun besar kapasitas vitalnya bukan terkecil diantara probandus yang lain tetapi terkecil jika dibandingkan dengan probandus yang berjenis kelamin laki-laki. Kapasitas vital terkecil dimiliki oleh probandus dari kelompok 2 yang berjenis kelamin perempuan. Artinya faktor-faktor yang dijelaskan di atas saling mempengaruhi besarnya kapasitas vital paru-paru.

VII.            KESIMPULAN :
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum yang berjudul “Sistem Respirasi” ini sebagai berikut:
Respirasi merupakan serangkaian langkah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran sisa berupa karbondioksida dan uap air. Udara dalam pernafasan dapat digolongkan menjadi:
1.    Volume Tidal (VT) : Volume udara yang keluar masuk paru-paru sebagai akibat aktivitas pernapasan biasa (500 cc).
2.    Volume Komplementer (VK) : Volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal ke dalam paru-paru setelah inspirasi biasa (1500 cc)
3.    Volume Suplementer (VS) : Volume udara yang masih dapat dihembuskan secara maksimal dari dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi biasa (1500 cc)
4.    Volume Residu (VR) : Volume udara yang selalu tersisa di dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya (1000 cc)
5.    Kapasitas Vital (KV) : Volume udara yang dapat dihembuskan sekuat-kuatnya setelah melakukan inspirasi sekuat-kuatnya (KV = VT + VK + VS)
6.    Kapasitasi Total (KT) : Volume total udara yang dapat tertampung di dalam paru-paru (KT = KV + VR)
Faktor yang mempengaruhi besarnya kapasitas vital seseorang sebagai berikut:
1.    Umur, umumnya makin bertambah umur seseorang akan makin rendah frekuensi pernapasannya.
2.    Jenis kelamin, kapasitas vital laki-laki lebih besar daripada perempuan.
3.    Keidealan (tinggi dan berat badan seseorang), semakin tinggi keidealan seseorang maka oksigen yang diperlukan juga semakin banyak.
4.    Aktifitas, karena orang yang giat melakukan aktifitas memerlukan lebih banyak energi dari pada orang yang sedang santai.
5.    Lingkar dada, semakin besar lingkar dada seseorang semakin banyak oksigen yang di hirup.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sistem Respirasi pada Manusia. http://biologimediacentre.com/ sistem-respirasi-3-respirasi-pada-manusia/. [Diakses tanggal 11 April 2013].
Hadisumarto, Suhargono, Tri Murtiati, Christiani. 1986. Biologi II. Jakarta: Universitas Terbuka.
Muchtaromah, bayyinatul. 2010. Respirasi pada Manusia. http://blog.uin-malang.ac.id/bayyinatul/sistem-respirasi-pada-manusia-bagian-1/. [Diakses tanggal 11 April 2013].
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Departemen Pendidikan Nasional.
Waluyo, J., Wahyuni, D., Asyiah, I. N. 2013.  Petunjuk Praktikum Biologi Dasar. Jember: Universitas Jember.
Waluyo, joko. 2010. Biologi Umum. Jember: Universitas Jember.











Lampiran

Probandus kelompok 1
            =  
=  
= 19,72
Probandus kelompok 2
            =  
=  
= 18,34
Probandus kelompok 3
            =  
=  
= 24,16
Probandus kelompok 4
            =  
=  
= 19,72
Probandus kelompok 5
            =  
=  
= 19,49
Probandus kelompok 6
            =  
=  
= 16,12




0 komentar:

Post a Comment